|
Written by syahrul sani
|
|
Wednesday, 29 July 2009 |
|
COTTON USA Buyers Tour Brings Global Brands and Retailers to Indonesia  The COTTON USA Buyers Tour to Indonesia will deliver representatives from 22 global companies to Indonesia from June 1-6 to meet suppliers of pure cotton woven and knit fabrics and garments. Cotton Council International (CCI), a non-profit U.S. trade association, will bring these important buyers to Jakarta to identify new sourcing opportunities from mills using significant portions of U.S. cotton in their collections. “The goal of this tour is to enable key international brands and retailers to meet and establish trading relationships with U.S. cotton’s important customers in Indonesia, Vietnam and Thailand,” said CCI President Clyde T. Sharp. This textile industry in this region, with its dominance in the global textile arena and loyal use of high quality U.S. cotton, will provide these buyers with a large variety of companies to consider. There will be 34 different suppliers from the region participating in the COTTON USA tradeshow, all of which manufacture products rich in U.S. cotton. |
|
Read more...
|
|
|
Pelemahan Permintaan Pasar Utama Dunia |
|
|
|
|
Written by Syaiful Bahri
|
|
Wednesday, 08 April 2009 |
Pelemahan Permintaan Pasar Utama Dunia dan Pengaruhnya terhadap Kinerja TPT Nasional Pendahuluan Seiring dengan pelemahan perekonomian dunia khususnya negara mitra dagang utama al; Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (EU27), Jepang, Singapore, dan China yang rata-rata menunjukkan penurunan akibat krisis finansial global yang mendorong pelemahan permintaan domestik di negara tersebut yang dengan sendirinya akan mempengaruhi kinerja perekonomian Nasional terutama pada sisi ekspor. Melemahnya daya beli masyarakat akibat meningkatnya tekanan inflasi, naiknya angka pengangguran dan adanya kebijakan proteksi pasar domestik di beberapa negara mitra dagang telah memperburuk keadaan. Pengaruhnya terhadap Kinerja Industri TPT Nasional Perlambatan perekonomian global yang dipicu oleh mencuatnya kasus subprime mortgage di Amerika Serikat yang kemudian berubah menjadi krisis financial global. Disisi lain bahwa kuatnya tekanan inflasi sejalan dengan tingginya harga energi dan naiknya beberapa jenis komoditi utama pada paruh-pertama 2008 telah mendorong melemahnya permintaan dunia pada komoditas utama dunia khususnya produk-produk industri manufaktur termasuk produk TPT di beberapa pasar utama dunia antara lain Amerika Serikat, EU27, dan Jepang sehingga mempersempit aktifitas perdagangan TPT di pasar global dan berimbas pada stagnasi aktifitas industri TPT di negara-negara produsen termasuk Indonesia. Kekawatiran akan turunya permintaan produk TPT di pasar utama tersebut terutama Amerika Serikat dan EU27—yang merupakan kontributor terbesar pada penyerapan TPT dunia—yang pada tahun 2007 yang lalu dari kedua pasar tersebut telah menyerap masing-masing sekitar 42.3% dan 18.7% dari total ekspor TPT dunia senilai US$583 Milyar. |
|
Read more...
|
|
|
Antisipasi ASEAN Hadapi Krisis Global |
|
|
|
|
Written by syahrul sani
|
|
Wednesday, 08 April 2009 |
Antisipasi ASEAN Hadapi Krisis Global Langkah Indonesia untuk memperkokoh kebijakan moneter dalam menghadapi krisisnampaknya akan diikuti oleh negara-negara Association of South East Asian Nations (ASEAN). Pemimpin negara-negara ASEAN akan membuat kebijakan moneternya menjadi lebih mudah bagi pengusaha, dan juga untuk memproteksi produknya. Sepuluh pemimpin dari negara ASEAN telah melakukan pembicaraan di Hua Hua, Thailand untuk membahas bagaimana ASEAN sebagai komunitas menghadapi krisis finansial yang 'memukul' ekspor, yang umumnya menjadi andalan perekonomian negara ASEAN. "Kami akan mempersiapkan semuanya dari sekarang, yakni sebagai group serta sebagai bagian dari regional Asia”, ujar Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva dalam pertemuan tersebut. Dari draft yang rencananya akan dideklarasikan, menunjukan ASEAN akan melakukan kerjasama dengan negara-negara yang tergabung dalam G-20 untuk membentuk institusi internasional finansial, serta untuk mengkoordinasikan kebijakan makroekonomi. |
|
Read more...
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>
|