|
 Ketika industri garmen Vietnam tidak punya benang dan kain, mereka membelinya dari Indonesia. Inilah contoh jalinan kerjasama antar negara-negara ASEAN yang tergabung dalam AFTEX. Dalam konperensi persnya, sore 18 juni 2008, Le Quoc An, Chairman of AFTEX, menekankan akan pentingnya integrasi diantara negara-negara ASEAN. Walaupun China dipandang seperti ‘Macan Tekstil’ yang kerap dikhawatirnyan, tapi ASEAN punya kekuatannya sendiri. Kekuatan ASEAN terutama karena ia bisa menjadi domestic market sekaligus punya mata rantai produksi tekstilnya sendiri. Benny Soetrino, Ketua Umum API, menambahkan bahwa kerjasama ini bukanlah bentuk proteksi, tapi dilakukan secara sukarela antara para pengusaha yang tergabung dalam asosiasi pertekstilan di masing-masing negara AFTEX. Berikutnya adalah artikel yang diolah dari Pers Release AFTEX. Klik di sini untuk mengunduh file tabel dominasi ASEAN di pasar AS. 
Kerjasama intra ASEAN bagi Indonesia menjadi sangat penting karena setidaknya dalam 5 tahun terakhir ekspor Indonesia ke pasar ASEAN tumbuh rata-rata 5,5% per tahun. Pertumbuhan ini dirasakan terutama oleh industri tekstilnya, dimana industi tekstil Indonesia menyuplai kebutuhan kain untuk industri garmen di Vietnam dan Kamboja yang dalam 3 tahun terakhir tumuh sangat cepat. Dengan adanya kerjasama perdagangan yang dimiliki ASEAN seperti Jepang, maka diharapkan hubungan dagang dengan Negara-negara di ASEAN bisa lebih ditingkatkan lagi. Selain itu, penduduk ASEAN yang mencapai sekitar 500 juta orang adalah pasar yang cukup besar untuk digarap. Namun banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar pasar ASEAN bisa dukuasai oleh negara-negara ASEAN sendiri. Direalisasikannya ASEAN single Window (ASW), menyusul bea masuk antar negara ASEAN yang sudah 0% (kecuali untuk Laos, Kamboja dan Myanmar free duty 2012), adalah salah satu cara agar ASEAN menjadi suatu pasar yang terintegrasi atau pasar regional ASEAN. Perkembangan ekonomi bisnis dunia saat ini telah mengubah peta struktur pasar (suplai-demand) TPT dunia. Mulai dari lonjakan harga minyak mentah dunia yang mengkoreksi semua kegiatan ekonomi dunia, melemahnya nilai tukar US dolar dan perlambatan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Jepang yang mulai mendorong demand produk TPT ke wilayah Eropa dan pasar non-tradisional lainnya, hingga perubahan kebijakan fiscal dan moneter pemerintah China serta penyelenggaraan olimpiade di negara tersebut yang mulai mendorong sisi suplai ke wilayah Asia Tenggara. Kecenderungan buyer untuk melakukan sourcing di negera-negara ASEAN sudah terlihat sejak awal tahun 2008. Maka kinerja industri TPT ASEAN akan bergantung pada kesiapan industri TPT ASEAN untuk memenuhi demand. Hal ini terlihat di pasar Amerika Serikat dimana hingga April 2008 meskipun nilai impor Amerika Serikat turun 2,6% (y-o-y), namun hanya pertumbuhan ekspor ASEAN ke Amerika Serikat naik 5,22%. Sedangkan semua wilayah seperti NAFTA,OECD, CBI bahkan China mengalami penurunan. Kerjasama antar negara ASEAN sendiri telah digagas melalui CEPT-AFTA yang bertujuan agar negara-negara ASEAN termasuk di sektor TPT bisa saling bekerjasama dalam menangkap peluang-peluang tersebut. Asosiasi-asosiasi tekstil dan garmen dari negara anggota ASEAN dalam 5 tahun terakhir ini, melalui ASEAN Federation for Textile Industry (AFTEX), telah berkoordinasi secara aktif dan melalukan kerjasama. Demikian pula pertemuan 2 hari di Jakarta (17-18 Juni 2008), diselenggarakan untuk membahas kondisi perkembangan industri dan perdagangan TPT dunia, serta menetapkan langkah-langkah kerjasama dalam rangka memperkuat integrasi industri TPT ASEAN agar dapat menangkap peluang dalam rangka memenangkan persaingan global. Dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi intra-ASEAN yang lebih cepat, melalui peningkatan hubungan dagang, diharapkan cita-cita ASEAN untuk menjadi kekuatan ekonomi baru dunia bisa segera terwujud. |