25 Tahun AFTEX, Bekerjasama Melawan Kesulitan Pertumbuhan perekonomian telah menjadi tujuan di semua negara. Disinilah industri tekstil sangat berperan karena bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga negara-negara ASEAN. Dalam sambutannya, President API Benny Soetrisno mengemukan, bahwa telah terjadi perkembangan dalam jumlah volume perdagangan di dalam lingkungan negara-negara ASEAN. Dengan perhitungan tersebut, kita bisa optimis mendukung industri tekstil nasional. Sebagai suplier dari tekstil dan pakaian, setiap negara harus punya spesialisasinya masing masing berdasarkan pada pengalaman, keahlian dan juga pengaruh kondisi makro ekonomi. Spesialisasi inilah yang akan meningkatkan posisi tawar ASEAN di pasar global, juga di antara negara ASEAN.
Kerjasama melalui AFTEX dalam bidang perdagangan, logistik, dan transportasi akan membantu negara yang masih lemah agar dapat berkompetisi di dalam hubungan kerjasama yang saling menguntungkan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa perjumpaan negara-negara anggota AFTEX di Jakarta kali ini bertepatan dengan krisis yang dialami oleh seluruh dunia. Sebagai Chairman of AFTEX, Le Quoc An, menyebutkan bahwa melonjaknya harga minyak mentah dan makanan, telah membuat negara besar seperti Amerika Serikat turut melemah dalam perekonomian, yang ditandai dengan melemahnya nilai Dollar Amerika. Faktor-faktor inilah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan jutaan pekerja tekstil dan garmen di seluruh negara, termasuk ASEAN. Dalam kondisi sulit seperti ini, Le Quoc An merangkum, bahwa beberapa jalinan kerjasama telah diupayakan agar ASEAN tetap bangkit dan terus berjuang guna menentukan posisi industri tekstilnya; diantaranya adalah sebagai berikut: - Penandatanganan ASEAN Charter di bulan November 2007 yang telah membuka era baru dalam upaya kerjasama diantara anggota ASEAN.
- Penandatangan EPAs atara beberapa anggota ASEAN (secara terpisah) dan Jepang telah membawa kesempatan baru bagi para anggota untuk melakukan ekspor ke Jepang dan juga menmendorong kedekatan kerja sama juga bisnis diantara anggota.
- Masalah yang baru-baru ini melanda industri tekstil dan garmen di China telah membuat kesempatan baru bagi angora ASEAN untuk semakin memperkuat jalinan kerjasamanya, seperti kerja sama dengan Amerika Serikat.
Pertemuan AFTEX di Jakarta yang relatif padat dan efektif ini telah membahas beberapa topik, yaitu: membuat roadmap, diantaranya melalui peningkatan mata rantai suplai tekstil dan produk tekstil yang bekerjasama dengan USAID, pengembangan website AFTEX (yang juga terkait dengan website asosiasi tekstil nasional seperti www.indonesiatekstil.com), pameran Source It di Shanghai, Laboratorium untuk uji kualitas tekstil, upaya peningkatan mata rantai industri tekstil dan pengangkatan secretary general untuk AFTEX. Pembahasan masalah pertekstilan negara ASEAN ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Ketua AFTEX Le Quoc An dan Peter Minor dari Nathan Associates Inc, sebagai perusahaan yang mewakili USAID. Kini, telah resmi jalinan kerjasama antara keduabelah pihak dalam rangka identifikasi spesialisasi masing-masing negara ASEAN, sekaligus mengembangkan kebijakan dan kerjasama para anggotanya dalam bidang usaha tekstil dan produknya. |